Gereja Sebagai Representasi Kerajaan Sorga di Bumi

Gereja sebagai representasi Kerajaan Sorga di bumi
Gereja sebagai representasi Kerajaan Sorga di bumi

Gereja yang dibangun oleh Tuhan Yesus Kristus merupakan representasi Kerajaan Sorga di bumi (Matius 16:13-19). Gereja sebagai representasi Kerajaan Sorga di bumi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Berkuasa atas alam maut.
“Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (ayat 18).

Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus tidak akan dikuasai oleh alam maut atau pintu gerbang neraka, justru sebaliknya gerejalah yang berkuasa atas alam maut.

Gereja dapat menghentikan seluruh aktifitas dari kuasa alam maut, tetapi alam maut tidak dapat menghentikan apa yang dikerjakan oleh gereja. ITULAH GEREJA!

2. Memiliki kunci Kerajaan Sorga.
“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (ayat 19).

Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus memiliki kunci Kerajaan Sorga. Gereja dapat mengikat apa yang perlu diikat dan melepaskan apa yang perlu dilepaskan di dunia ini, dan Sorga akan mendukung dan mengeksekusinya.

Sebaliknya apa yang telah diikat dan dilepas oleh Sorga di alam roh, gereja yang akan mengeksekusinya di alam nyata. Dengan demikian tidak ada satu pun penguasa angkasa yang dapat menghalangi Kerajaan Sorga ditegakkan di atas muka bumi.

Tidak akan ada pintu yang tertutup, karena gereja dapat membukanya dengan kunci Kerajaan Sorga. ITULAH GEREJA!

Gereja yang jemaatnya tidak memiliki kedua ciri ini tidak dapat disebut sebagai gereja, tidak peduli berapa besar gedungnya dan berapa banyak jumlah jemaatnya. ITU BUKAN GEREJA!

Bagaimana gereja yang akan menjadi representasi Kerajaan Sorga dibangun:

1. Tidak dibangun di atas opini manusia (ayat 13-18).
Gereja yang dibangun di atas opini manusia akan menjadi gereja yang lemah dan tidak dapat merepresentasikan Kerajaan Sorga. Gereja tidak boleh dibangun di atas opini manusia.

2. Dibangun di atas dimensi pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus (ayat 16).
Gereja harus dibangun di atas pengenalan akan Tuhan Yesus, bukan opini manusia. Setiap jemaat harus memiliki dimensi pengenalan akan Yesus yang akurat, bukan berasal dari pengalaman pribadinya tetapi dari tahta Bapa. Gereja harus menerima pewahyuan tentang Yesus sebagai: Kristus (The Christ), Anak (The Son), Allah (The God), yang hidup (The Living).

Bila gereja dibangun di atas dimensi pengenalan akan Yesus yang akurat, setiap jemaatnya akan hidup dalam kemenangan. Sama seperti Yesus sang kepala sudah menang, tubuhnya pun pasti menang. Adalah hal yang mustahil jika kepalanya menang, tetapi tubuhnya kalah.

Gereja yang jemaatnya tidak hidup dalam kemenangan tidak dapat disebut sebagai tubuh Kristus, karena Kristus sang kepala telah menang. Jika kita adalah tubuh Kristus, maka sama seperti Kristus telah menang, kita pun pasti menjadi pemenang! ITULAH GEREJA!

3. Dibangun di atas pewahyuan dari tahta Bapa (ayat 17).
Gereja harus dibangun dan dibentuk oleh pewahyuan dari tahta Bapa. Khotbah yang disampaikan dalam tiap ibadah harus bersumber dari Firman yang diterima dari tahta Bapa, bukan dari buku, internet, atau dari sumber-sumber lainnya.

Gereja yang dibangun oleh pewahyuan Firman dari tahta Bapa, jemaatnya akan menjadi kuat dan perkasa, tak terkalahkan, tak terhentikan. Alam maut pun tak dapat menguasai mereka. ITULAH GEREJA!

4. Dibangun di atas kehidupan seorang pemimpin yang telah mengalami perubahan (ayat 17-18).
Sebagaimana pemimpinnya begitulah jemaatnya. Jika gereja dipimpin oleh pemimpin yang belum mengalami perubahan hidup seperti yang Tuhan mau, maka gerejanya akan dipenuhi dengan jemaat yang tidak berubah. Yesus hanya dapat mendirikan jemaat-Nya di atas Petrus, bukan Simon.

Pemimpin yang belum berubah akan memimpin dengan cara Simon. Simon artinya ilalang. Ilalang hanya akan bergerak sesuai arah angin, jika tidak ada angin, ia tidak bergerak. Banyak pemimpin yang tidak tahu mau bergerak ke mana sampai ada ‘angin’ yang bertiup, entah itu desakan dari jemaat, atau tren yang sedang berlangsung.

Selama gereja dibangun berdasarkan ‘arah angin’ jemaatnya tidak akan pernah bisa menjadi kuat seperti batu karang, tapi gereja sebagai representasi Kerajaan Sorga di bumi akan kuat seperti batu karang.

Pemimpin harus menerima pewahyuan Firman dan pewahyuan Firman itu harus mengubah hidupnya. Pemimpin yang telah berubah karena pengaruh dari pewahyuan Firman yang diterima dari tahta Bapa akan memimpin dengan cara Petrus.

Mereka tidak akan mengikuti arah angin, tetapi mengikuti ‘angin Roh Kudus’. Mereka fokus pada pewahyuan Firman yang telah mereka terima dari Sorga dan membangun jemaat di atas pewahyuan tersebut. Mereka tidak tergoda untuk mengikuti segala angin yang bertiup.

Pewahyuan Firman yang telah mengubah kehidupan pemimpin, pada gilirannya akan mengubah kehidupan jemaat. Sehingga sebagaimana pemimpin telah berubah menjadi kuat seperti batu karang, jemaat pun akan menjadi kuat seperti batu karang.

Gereja seperti ini akan menjadi gereja yang tak tergoyahkan dan tak tergoncangkan oleh apa pun juga. Alam maut tidak dapat menguasai mereka! ITULAH GEREJA sebagai representasi Kerajaan Sorga di bumi!

APAKAH INI JENIS GEREJA BARU? INI BARU GEREJA!

Baca juga: Adam Pertama atau Adam Kedua.

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*