Hidup Dalam Kodrat Ilahi

Tuhan memberikan janji-janji yang sangat besar dan berharga dengan tujuan agar kita bisa hidup dalam kodrat Ilahi-Nya (2 Petrus 1:4) dan terluput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia (terluput dari kemerosotan moral yang berakar pada hawa nafsu/ambisi dan keserakahan — terjemahan Amplified Bible).

Sistem dunia ini dikendalikan/didorong oleh ambisi dan keserakahan, dan segala sesuatu yang dikendalikan/didorong oleh ambisi dan keserakahan akan mengalami kemerosotan moral. Mengapa banyak orang Kristen mengalami kemerosotan moral sama seperti orang dunia?

Karena mereka masih hidup dan dikuasai oleh sistem dunia ini. Hidup mereka dikendalikan dan didorong oleh ambisi dan keserakahan. Kalau kita mau terluput dari kemerosotan moral yang berakar pada ambisi dan keserakahan, mau tak mau kita harus hidup dalam sistem yang berbeda, yaitu sistem Sorga. Memang kita masih hidup di dalam dunia, tapi kita bisa hidup dengan sistem Sorga, karena kewarganegaraan kita yang sesungguhnya ada di dalam Sorga (Ef. 2:19).

Hidup Dalam Kodrat Ilahi
Hidup Dalam Kodrat Ilahi

Jika kita hidup di dunia dengan sistem Sorga, maka ketika sistem dunia ini mengalami keguncangan, kita tidak akan terguncangkan (Ibr. 12:25-29). Bagaimana kita bisa luput dari keguncangan yang akan terjadi? Hidup dalam sistem Sorga! Bagaimana caranya hidup dalam sistem Sorga? Hiduplah dalam kodrat Ilahi-Nya! Bagaimana kita bisa hidup dalam kodrat Ilahi-Nya? Hiduplah di dalam janji-janjiNya! Apa mungkin? Bagaimana cara kerjanya?

Pahami arti dari Hidup dalam kodrat Ilahi:

1. Hidup dalam kodrat Ilahi berarti kita memiliki sifat bawaan yang Ilahi.
Kita dilahirkan dengan kodrat/nature/sifat bawaan manusiawi yang sarat dengan kelemahan dan keterbatasan. Selama kita terus hidup dalam sifat bawaan yang manusiawi, kita akan terus hidup dalam segala kelemahan dan keterbatasan. Kita akan terus terombang-ambing dengan segala situasi dan keadaan. Saat Tuhan memberikan janji-janjiNya kepada kita, Ia juga memberikan kodrat/nature-Nya bersamaan dengan janji itu.

Jika kita terus berendam dalam janji-janjiNya sampai janji itu menyatu dengan diri kita, maka janji-Nya itu akan menjadi kodrat/nature/sifat bawaan kita yang baru menggantikan sifat bawaan manusiawi yang lama.

Contoh: Gideon (Hakim-hakim 6). Gideon dilahirkan dengan sifat bawaan penakut, minder, merasa diri kecil, dsb (ayat 11 dan 15), tapi Tuhan datang kepadanya dan berfirman: “Engkau pahlawan yang gagah berani!” (ayat 12).

Awalnya Gideon sulit mempercayai janji itu, tetapi dia menerimanya dan terus berendam di dalamnya, dan tanpa sadar, sifat bawaan yang baru sebagai pahlawan yang gagah berani muncul dalam dirinya menggantikan sifat bawaannya yang lama sebagai penakut. Dengan kodrat Ilahi yang baru yang ia kenakan, Gideon benar-benar bangkit menjadi pahlawan yang gagah berani dan membebaskan bangsa Israel dari jajahan orang Midian.

Saat Gideon hidup dalam kodrat Ilahi, ia terbebas dari sistem yang bekerja saat itu, yaitu: ketakutan! Dia hidup dalam sistem yang berbeda, itu sebabnya ia tidak terpengaruh lagi dengan sistem yang ada dan dapat menaklukkannya.

2. Hidup dalam kodrat Ilahi berarti kita memiliki kemampuan yang Ilahi.
Kemampuan kita yang manusiawi sangat terbatas, itu sebabnya kita perlu hidup dalam kemampuan Ilahi. Saat Tuhan memberikan janji-janjiNya, saat yang bersamaan Ia juga memberikan potensi Ilahi-Nya. Sehingga ketika janji itu sudah menyatu dan menjadi jati diri kita, akan muncul berbagai kemampuan yang tadinya tidak ada menjadi ada dalam diri kita. Itulah kemampuan Ilahi.

Dengan kemampuan baru yang Ilahi yang kita miliki kita akan bisa melakukan apa saja yang secara manusiawi tidak dapat kita lakukan. Dalam contoh di atas, sebelumnya Gideon tidak memiliki kemampuan untuk membebaskan bangsa Israel dari jajahan Midian, tapi melalui janji Tuhan, Ia dapat hidup dalam kodrat Ilahi dan memiliki kemampuan yang baru untuk menjadi pembebas.

3. Kita memiliki takdir yang Ilahi.
Seringkali kodrat dihubungkan dengan takdir. Takdir ditentukan oleh kodrat. Jika kodrat kita orang miskin maka takdir kita adalah orang miskin. Jika kodrat kita alami perubahan, otomatis takdir kita pun akan alami perubahan. Jika kodratnya Ilahi, takdirnya pasti Ilahi. Kita harus menerima dan mempercayai janji Tuhan sebagai kodrat kita, maka janji Tuhan pun akan menjadi takdir kita.

Itulah arti dari hidup dalam kodrat Ilahi yang jika kita hidup di dalamnya, maka kita akan dapat menikmati semua yang Tuhan sediakan.

Baca juga: Firman Kerajaan.

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*