Kehidupan atau Kematian

Kehidupan atau Kematian
Kehidupan atau Kematian

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” (Ulangan 30:19).

Beberapa prinsip kebenaran yang bisa kita pelajari dari Ulangan 30:11-20:

1. Kehidupan atau kematian adalah masalah pilihan dan bukan masalah takdir.

Banyak orang berkata semua yang terjadi dalam kehidupan ini sudah ditakdirkan oleh Tuhan, tetapi Alkitab berkata, Tuhan memperhadapkan kepada kita kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk, dan Tuhan menyerahkan pilihannya ke dalam tangan kita. Tuhan sendiri berkeinginan agar kita memilih kehidupan dan berkat.

Semua yang kita alami di masa kini adalah hasil dari pilihan dan keputusan yang kita buat di masa lalu. Jika kita memilih jalan kehidupan, niscaya kita akan hidup. Sebaliknya jika kita memilih jalan kematian, niscaya kita akan mati. Semua adalah konsekwensi dari pilihan yang kita buat.

Jika disuruh memilih semua orang pasti berkata ingin memilih kehidupan, tetapi pilihan yang kita buat tidak bisa diukur hanya dari perkataan, kita harus buktikan dalam tindakan sehari-hari kita.

“Karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya” (Ulangan 30:16-18)

Inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang memilih jalan kehidupan: Mengasihi Tuhan Allah, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya. Dan inilah yang akan dialami oleh orang-orang tersebut: Kamu akan hidup, bertambah banyak, dan diberkati Tuhan.

Jika kita tidak melakukan itu, berarti kita memilih jalan kematian, dan pengalamannya pun akan berbeda. Ini masalah pilihan dan bukan masalah takdir!

2. Melakukan perintah Tuhan adalah masalah mau atau tidak mau, bukan masalah bisa atau tidak bisa.

“Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ulangan 30:11-14).

Alkitab berkata perintah Tuhan itu tidak terlalu sukar dan tidak terlalu jauh. Perintah itu telah ditaruh Tuhan di dalam mulut dan di dalam hati kita, untuk dilakukan. Pertanyaannya adalah: maukah kita melakukannya?

Tuhan sudah mempermudah semua yang sulit agar kita bisa melakukannya dengan mudah. Jadi tidak ada alasan untuk kita tidak bisa melakukannya. Jika kita tidak melakukannya, alasannya hanya satu: KITA TIDAK MAU MELAKUKANNYA!

Jika kita berkata melakukan perintah Tuhan itu sulit, kita berbohong, karena Alkitab berkata itu tidak sukar. Kitab Perjanjian Baru pun memberi kesaksian yang sama,

Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat” (I Yohanes 5:3).

Jadi jelas sekarang, melakukan perintah Tuhan itu tidak sukar dan tidak berat. Kalau kita merasa sukar dan berat, itu disebabkan karena kita tidak mau. Ini bukan masalah bisa atau tidak bisa, ini masalah mau atau tidak mau! Maukah anda?

3. Memilih jalan kehidupan membuat kita dapat mewarisi setiap penggenapan janji yang seharusnya diterima oleh bapa rohani kita.

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan
kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka” (Ulangan 30:19-20).

Jika kita memilih jalan kehidupan yang juga telah dipilih dan dijalani oleh para bapa rohani di atas kita, maka Tuhan memberikan hak istimewa kepada kita untuk menikmati penggenapan janji yang seharusnya dinikmati oleh mereka. Sehingga setiap janji yang telah Tuhan ikrarkan kepada mereka menjadi milik kita juga. Kita menerima upah kita sendiri, ditambah dengan upah yang seharusnya diterima oleh mereka.

Apa yang Anda pilih? Kehidupan atau kematian? Pilihlah kehidupan, maka kita akan menerima porsi ganda. Haleluya!

Baca juga artikel ini: Hidup Keagamaan Orang Farisi.

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*