Kemenangan yang Permanen

Kemenangan yang Permanen
Kemenangan yang Permanen

“Setelah Saul mendapat jabatan raja atas Israel, maka berperanglah iab ke segala penjuru melawan segala musuhnya: melawan Moab, bani Amon, Edom, raja-raja negeri Zoba dan orang Filistin. Dan ke mana pun ia pergi, ia selalu mendapat kemenangan. Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang gagah perkasa, memukul kalah orang Amalek, dan melepaskan Israel dari tangan orang-orang yang merampasi mereka” (I Sam. 14:47-48).

“Daud maju berperang dan selalu berhasil ke mana juga Saul menyuruhnya, sehingga Saul mengangkat dia mengepalai para prajurit. Hal ini dipandang baik oleh seluruh rakyat dan juga oleh pegawai-pegawai Saul (I Sam. 18:5).

Saul dan Daud memulai di titik yang sama: Mereka diurapi untuk menjadi raja oleh Samuel dan setelah itu mereka meraih kemenangan demi kemenangan. Tetapi mereka melanjutkan dan mengakhiri di titik yang berbeda.

“Peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud berlarut-larut; Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah” (2 Sam. 3:1).

Daud berhasil membuat kemenangan yang ia terima dari Tuhan menjadi kemenangan yang permanen, bahkan sampai pada keturunannya; Tetapi Saul tidak. Kita bisa memulai di titik yang sama tapi melanjutkan dan mengakhiri di titik yang berbeda-beda.

Masih ingatkah anda? Di awal perjumpaan dengan Tuhan, ada berbagai kemenangan yang anda rasakan dan alami? Tetapi setelah itu kemenangan datang dan pergi sifatnya, dan kian lama anda kian lemah dan akhirnya kehilangan kemenangan tersebut. Mengapa demikian? Dapatkah kita mempertahankan kemenangan yang telah kita terima? Dapatkah kita memiliki kemenangan yang permanen? Mari kita belajar dari kehidupan Daud.

1. Terus hidup berdasarkan iman (I Sam. 17:40-54).
Kita memulai kehidupan kekristenan kita dengan “percaya” begitulah seharusnya kita melanjutkan kehidupan kekristenan kita sampai pada akhirnya. Daud hidup berdasarkan kepercayaan. Sejak dia menjadi gembala, dia percaya Tuhan yang melindungi dia dari serangan singa dan beruang dan Tuhanlah yang memberikan kemampuan kepadanya untuk mengalahkan mereka (I Sam. 17:37).

Waktu menghadapi Goliat dia percaya bahwa hasil pertempuran ada di tangan Tuhan, (I Sam. 17:47). Dalam menghadapi setiap peperangan dia percaya Tuhanlah yang selalu memberi kemenangan kepada Dia. Itu sebabnya dia tidak pernah mengandalkan kemampuan dan keahliannya, tetapi terus mengandalkan Dia yang memberi kemenangan kepadanya.

2. Terus hidup berdasarkan tuntunan Tuhan.
Dalam setiap persoalan yang dihadapi Daud selalu mengambil keputusan berdasarkan tuntunan Tuhan. Pada waktu ia dikejar-kejar Saul untuk dibunuh ia selalu meminta petunjuk Tuhan untuk apa yang harus ia lakukan, sehingga ia tetap aman dalam perlindungan Tuhan. Pada waktu berperang ia juga selalu meminta petunjuk Tuhan, itulah yang menentukan kemenangannya.

Mengikuti tuntunan Tuhan juga berarti tidak melanggar suara hati nurani. Dalam I Samuel 24 Daud mendapat kesempatan untuk membunuh Saul, tetapi hatinya berdebar waktu akan melakukannya, ia langsung membatalkannya dan melarang prajuritnya untuk menjamah Saul.

Orang yang hidup berdasarkan tuntunan Roh selalu mendengarkan arahan Tuhan dan tidak melanggar suara hati nuraninya. Itulah yang menentukan kemenangannya.

3. Hidup berdasarkan Firman/janji Tuhan.
Daud selalu memegang janji Tuhan dalam hidupnya dan hidup berdasarkan janji tersebut. Bagi Daud tidak hidup berdasarkan janji adalah dosa,

”Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm. 25:10).

”Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” (Mzm. 119:11).

Daud dapat menghadapi masa-masa kritis dalam hidupnya karena ia hidup berdasarkan janji. Apa pun fakta yang ia hadapi, ia tetap berpegang pada janji-Nya, karena ia tahu Tuhan pasti akan menggenapi janjiNya.

Itulah tiga kunci yang membuat kita bisa mengalami kemenangan yang permanen dan selalu hidup berkemenangan. Renungkan dan terapkan, kemenangan akan menjadi permanen dalam hidup kita.

KITA BISA MEMULAI DI TITIK YANG SAMA
TETAPI MENGAKHIRINYA DI TITIK YANG BERBEDA
AKHIR DARI SEGALA SESUATU
LEBIH MENENTUKAN DARIPADA AWALNYA

Baca juga: Kemenangan Kita.

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*