Pola Pikir Kain

Pola Pikir Kain
Pola Pikir Kain

Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia (Kejadian 4:2-8).

Kain dan Habel mempersembahkan korban kepada Tuhan, tetapi persembahan Habel diindahkan Tuhan, sementara persembahan Kain tidak. Tiba-tiba Kain menjadi marah terhadap Habel, sampai timbul niat untuk membunuh adiknya itu, dan pada akhirnya mewujudkan niatnya tersebut.

Pertanyaannya, apakah salah Habel terhadap Kain? Kain mempersembahkan korban kepada Tuhan dan Tuhan tidak mengindahkannya, lalu apa kait-mengaitnya dengan Habel? Mengapa Habel yang menjadi sasaran kemarahan Kain?

Sebuah tindakan didorong oleh sebuah pola pikir. Apa pola pikir Kain yang ada di balik tindakannya? Kain memiliki pola pikir demikian: “Kegagalanku disebabkan oleh apa yang orang lain lakukan dan bukan apa yang aku lakukan.” Inilah yang saya sebut dengan pola pikir Kain.

Banyak orang menganut pola pikir Kain, inilah ciri-cirinya:

1. Bila mengalami kegagalan atau pengalaman buruk selalu mencari kesalahan di luar dirinya.
Kain gagal memperkenan hati Tuhan, karena dia mempersembahkan korban tidak seperti yang Tuhan inginkan. Kalau saja dia mau mengevaluasi dan mempelajari kembali apa yang dia sudah lakukan, maka dia akan memiliki pemahaman yang meningkat dalam memperkenan hati Tuhan.

Tapi dia hanya mau melakukan yang terbaik menurutnya sendiri, padahal apa yang terbaik menurut kita, belum tentu sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan. Tuhan sudah menggariskan, harus ada penumpahan darah dalam persembahan, tapi Kain tidak mempedulikannya. Dan ketika dia gagal, dia mempersalahkan Habel karena pikirnya, “Seandainya tidak ada Habel, mungkin persembahanku akan diterima Tuhan.”

Ini adalah pola pikir yang salah dan menjerumuskan kita ke dalam berbagai kesalahan dan dosa. Seharusnya kita sadar bahwa apa yang kita alami sangat dipengaruhi oleh apa yang kita lakukan. Kalau apa yang kita lakukan benar; apa yang kita alami akan benar juga.

Kalau apa yang kita alami salah, berarti apa yang kita lakukan belum benar. Kalau pun orang di sekitar kita melakukan apa yang salah terhadap kita, dan karenanya kita mengalami pengalaman buruk, tetapi jika apa yang kita lakukan benar, maka Tuhan akan mengubahkan pengalaman buruk itu menjadi pengalaman yang benar.

2. Sulit menerima nasehat karena merasa tidak ada kesalahan pada dirinya.
Tuhan sudah memberikan nasehat kepada Kain supaya ia tidak terjerumus ke dalam dosa, tetapi Kain tidak mengindahkan Tuhan. Orang yang memiliki pola pikir Kain sangat sulit dinasehati, karena ia selalu merasa yang bersalah itu orang lain, dan bukan dirinya.

Kita semua harus menyadari prinsip ini: Hidup kita ditentukan oleh pilihan dan keputusan kita. Hidup kita tidak ditentukan oleh apa yang orang lain lakukan.

Tuhan sendiri berkata:

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” (Ulangan 30:19).

Dengan mengetahui pola pikir Kain ini kita bisa terbebas dari menyalahkan orang lain dan dengan segera dapat memperbaiki kesalahan kita tanpa berbuat dosa.

Jangan ketinggalan artikel ini: Sekiranya Kita Mendengar suara-Nya.

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*