Tanah Hati Bersemak Duri

Tanah hati bersemak duri adalah gambaran orang Kristen yang bertahun-tahun mendengar Firman, tetapi Firman tidak dapat bertumbuh dalam dirinya, disebabkan karena ada semak duri yang menghimpitnya. Juga merupakan gambaran orang yang ingin menjadi hamba Tuhan, tetapi di lain sisi juga masih terikat dengan Mamon dan menjadi hamba Mamon.

Tanah Hati Bersemak Duri
Tanah Hati Bersemak Duri

“Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah” (Mrk. 4:18-19).

Semak duri berbicara tentang tiga hal:
1. Kekuatiran dunia ini.
Masalah-masalah keuangan yang ada membuat mereka kuatir, dan kekuatiran itu menghimpit Firman yang sudah mulai bertumbuh. Pada akhirnya, mereka kehilangan kepercayaan terhadap Firman yang awalnya mereka percayai.

Cara menanggulanginya:
a. Miliki konsep pikir yang teguh bahwa kekuatiran bukanlah kehendak Tuhan.

Dalam Matius 6:25, Yesus berkata:
“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian”

Tetapi sebelum Ia berkata “Jangan kuatir” (ayat 25), dalam ayat 24 Ia berkata,

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Dengan kata lain, kekuatiran menunjukkan bahwa kita masih mengabdi kepada Mamon (uang) dan bukan kepada Tuhan. Orang yang mengabdi kepada Tuhan percaya kepada kuasa Tuhan. Orang yang mengabdi kepada Mamon percaya kepada kuasa uang.

Ada orang yang berkata, “Kita boleh kuatir, tapi jangan berlebihan. Yesus saja kuatir.” Itu dusta dari neraka. Dengan tegas Yesus berkata, “Janganlah kuatir akan hidupmu!” Kekuatiran bukanlah kehendak Tuhan dan tidak pernah berasal dari Tuhan. Jadi jangan kuatir!

b. Belajar hidup mengandalkan Tuhan.
Hamba Tuhan hidup mengandalkan Tuhan, hamba Mamon hidup mengandalkan uang. Yeremia 17:7-8 berkata,

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”

Jika kita mengandalkan Tuhan, sekali pun kita harus melewati tahun kering, kita tetap tidak akan berkekuatiran, karena kita percaya Tuhan dapat diandalkan dalam segala sesuatu.

2. Tipu daya kekayaan.
Tipu daya kekayaan adalah konsep pikir salah yang sudah terlanjur kita percayai bahwa kita hanya bisa melakukan sesuatu jika ada uang, dan tidak bisa melakukan apa pun jika tidak ada uang.

Konsep pikir salah inilah yang seringkali menghimpit Firman sehingga tidak dapat bertumbuh dalam diri kita.

Untuk menanggulanginya, kita perlu menggantikan konsep pikir yang salah ini dengan konsep pikir yang benar, yaitu: Kita hanya bisa melakukan sesuatu jika bersama Tuhan, dan tidak bisa melakukan apa pun jika tidak bersama Tuhan.

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5).

3. Keinginan akan hal-hal yang lain.
Tanah hati bersemak duri artinya ada banyak keinginan dalam hati kita, dan seringkali keinginan-keinginan itu menyeret kita ke dalam pencobaan, Yakobus 1:13-14 mengatakan:

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.”

Keinginan-keinginan ini seringkali bertentangan dengan keinginan-keinginan Tuhan yang ada dalam Firman-Nya sehingga menghimpit Firman tersebut.

Untuk menanggulanginya kita perlu membawa semua keinginan kita di bawah terang Ilahi di dalam doa, sehingga pada akhirnya keinginan kita akan mengalami penyelarasan dan pertukaran dengan keinginan-Nya.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Fil. 4:6-8).

Dari pada kita kuatir, lebih baik kita membawa semua keinginan kita ke dalam hadirat-Nya, maka damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita, dan setelah itu akan mulai terjadi pertukaran dalam pikiran kita.

Kita mulai bisa memikirkan hal-hal yang berasal dari Allah, sehingga pada akhirnya kita akan mulai memiliki keinginan yang sama dengan-Nya.

Jika kita dapat menanggulangi dengan tuntas ‘trisula Mamon’ di atas, maka tanah hati bersemak duri akan segera berubah menjadi tanah hati yang baik.

Baca juga: Tanah Hati Berbatu-batu.

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*