Tanah Hati Pinggir Jalan

“Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan” (Mat. 13:19).

Tanah Hati Pinggir Jalan
Tanah Hati Pinggir Jalan

Kondisi hati kita menentukan seberapa dalam Firman dapat berakar, seberapa jauh Firman dapat bertumbuh, dan seberapa banyak Firman dapat menghasilkan buah dalam hidup kita.

Dalam Matius 13, Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang penabur yang menaburkan benih Firman. Dan Yesus menjelaskan bahwa Firman yang ditaburkan adalah Firman Kerajaan, bukan Firman tentang Kerajaan.

“Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga,….” (Mat. 13:18-19).

Terjemahan King James Version:
“Hear ye therefore the parable of the sower. When any one heareth the word of the kingdom, ….” (Mat. 13:18-19).

Dalam terjemahan bahasa Inggris, istilah yang dipakai adalah: the Word of the Kingdom (Firman yang bersumber dari Kerajaan/tahta Allah), bukan the Word about the Kingdom (Firman tentang Kerajaan).

Firman yang bersumber dari Kerajaan/tahta tidak bisa disampaikan oleh sembarang orang. Orang itu harus merupakan utusan Kerajaan, yang dipercaya oleh Sang Raja sendiri untuk menjadi representasi-Nya menyampaikan Sabda Raja.

Jika yang diperdengarkan adalah Sabda Raja, maka akan segera kelihatan jenis tanah hati para pendengarnya. Jika selama ini kondisi hati jemaat tidak pernah kelihatan penyebabnya adalah karena yang diperdengarkan bukan Firman ‘dari’ Kerajaan/tahta, melainkan hanya informasi ‘tentang’ Kerajaan.

Tanah hati yang pertama disoroti oleh Yesus adalah tanah hati pinggir jalan. Seorang yang memiliki kondisi hati pinggir jalan adalah orang yang ketika mendengar Firman Kerajaan memunculkan kondisi:

1. Tidak memahami Firman yang disampaikan.
Tidak memahami bukan karena kurang pendidikan atau otaknya bodoh. Karena masalah memahami Firman bukanlah masalah ‘otak’ tetapi masalah ‘hati’.

Jika kondisi hati seseorang baik, maka ketika Firman disampaikan, mereka akan bisa menerimanya dan Roh Kudus akan memberikan pengertiannya. Akan ada roh hikmat dan wahyu yang bekerja. Jika yang disampaikan adalah Sabda Raja, maka seluruh otoritas Kerajaan akan mem-back-up Firman tersebut.

Sehingga jika kondisi hatinya baik, tidak ada alasan untuk seseorang tidak memahami Firman Kerajaan. Penyebab mengapa ia tidak mengerti adalah karena kondisi hatinya di ‘pinggir jalan’.

Jika Anda masih memilki jenis tanah hati pinggir jalan, Anda harus segera mengupayakan segala macam cara untuk tanah hati Anda berubah menjadi tanah hati yang baik. Karena Firman Kerajaan tidak akan pernah bisa berakar, bertumbuh dan berbuah di tanah hati pinggir jalan. Apa yang harus Anda lakukan?

a. Anda harus ‘memindahkan’ tanah hati Anda dari pinggir jalan ke ‘dalam rumah’ sang penabur, untuk menjadi ‘ladang’ yang digarap secara khusus oleh sang penabur.

Anda harus ‘terhubung’ secara akurat dan terus-menerus dengan sang penabur, bukan hanya sekali-sekali mendengar Firman yang disampaikannya, hanya jika ‘sang penabur itu’ lewat.

Anda harus menjadi bagian dari sang penabur, menyerahkan diri ke dalam tangan sang penabur untuk dibajak, digarap, ditaburi benih, disirami, dijagai, dipotong, dst.

Anda harus memberi keluasaan untuk sang penabur melakukan apa saja yang diperlukan untuk mengubahkan tanah hati Anda dan memastikan setiap benih yang dia taburkan menghasilkan buahnya.

b. Anda harus mengijinkan hanya ‘satu jenis benih’ yang ditanam dalam hati Anda.

Jangan ijinkan ada dua jenis benih jatuh ke dalam tanah hati Anda, karena artinya akan ada percampuran yang membingungkan di sana,

“Kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan” (Im. 19:19).

Jangan mendengarkan seorang penabur yang memiliki banyak jenis benih. Pastikan Anda hanya mendengar Firman dari seorang penabur yang memiliki ‘satu jenis benih’ atau ‘satu sumber rohani’. Benihnya mungkin banyak, tetapi bersumber dari satu pohon. Anda harus memilih Anda mau menjadi pohon apa.

Jangan ingin menjadi semua pohon, karena Anda akan menjadi pohon yang tidak berbentuk alias membingungkan. Atau Anda akan menjadi ‘pohon semangka berdaun sirih.’

Dalam kitab Perjanjian Lama, ‘pinggir jalan’ seringkali dihubungkan dengan perzinahan rohani.

“Layangkanlah matamu ke bukit-bukit gundul dan lihatlah! Di manakah engkau tidak pernah ditiduri? Di pinggir jalan-jalan engkau duduk menantikan kekasih, seperti seorang Arab di padang gurun. Engkau telah mencemarkan negeri dengan zinahmu dan dengan kejahatanmu” (Yer. 3:2).

Tanah hati pinggir jalan juga menggambarkan orang yang memiliki banyak percampuran di dalam dirinya. Ada banyak pengajaran dan kepercayaan yang mereka percayai, sehingga ‘gambar Allah’ menjadi tidak berbentuk dalam diri mereka.

Inilah yang menimbulkan kekacauan dan kebingungan sehingga pada saat Firman Kerajaan datang dalam hidup mereka, mereka sulit memahaminya karena berbenturan dengan apa yang mereka pahami dan percayai selama ini.

2. Merasa sudah memahami padahal sebetulnya belum.
Saat Tuhan menyampaikan isi hatinya kepada seorang penabur yang Ia percayai, Tuhan menyampaikannya dengan pemahaman dan tujuan tersendiri. Ketika sang penabur mengomunikasikannya, ia berusaha menyampaikan dari sudut pemahaman Tuhan tersebut.

Tapi seringkali orang yang mendengar, memahami dari sudut pemahaman mereka sendiri. Inilah yang membuat mereka ‘merasa/menganggap’ mereka sudah mengerti, padahal belum.

Firman Kerajaan adalah jenis makanan keras yang perlu terus-menerus dikunyah, tidak cukup sekali atau dua kali. Pertama kali Anda mendengar, Anda akan merasa Anda sudah memahami, tapi sebetulnya belum. Apa yang harus Anda lakukan? Anda harus dengan rekamannya dan baca catatannya berulang-ulang.

Semakin Anda mendengar ulang, semakin Roh Kudus akan membukakannya bagi Anda, sehingga tingkat pemahaman Anda akan terus meningkat sampai mencapai seratus persen. Akhirnya Anda akan memiliki pemahaman yang sama dengan orang yang menyampaikannya, dan jika Anda memiliki pemahaman yang sama, Anda akan memiliki kedewasaan yang sama.

Jika benih yang sama itu sudah masuk dan berakar di dalam tanah hati Anda, maka pohon yang sama akan muncul dan buah yang sama pun akan muncul. Seperti sang penabur sudah menghasilkan buah dan memiliki banyak benih (karena di dalam buah selalu ada benih), Anda pun akan menghasilkan buah yang sama. Amin.

Baca pula: Cara yang Lebih Mudah dan Murah.

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*