
Konflik batin yang masih ada dalam diri kita, yang belum ditanggulangi secara tuntas, akan menghambat hidup kita untuk dipakai oleh Tuhan secara maksimal. Kita bisa mengenali ciri-ciri orang yang masih memiliki konflik batin dari kisah Musa.
Saat Tuhan memanggil Musa dan ingin memakainya menjadi pembebas bagi Israel, Tuhan harus bergumul dengan dia sampai akhirnya Tuhan berhasil membujuk dan meyakinkannya (Keluaran 3-4). Tetapi itu pun masih ada cacatnya, karena setelah bergumul sekian lama, Musa tetap berkata, “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus” (Kel. 4:13). Jadi pada akhirnya, Tuhan memberikan Harun untuk membantu Musa menjadi juru bicaranya kepada bangsa Israel, yang di kemudian hari malah merepotkannya.
Jadi sebaiknya kita mengenali apakah masih ada konflik batin yang belum ditanggulangi dalam diri kita karena konflik batin yang tidak ditanggulangi akan pasti terekspos ke luar. Itu hanya masalah waktu.
Inilah ciri-ciri orang yang masih memiliki konflik batin di dalam dirinya:
1. Memiliki banyak alasan untuk menolak tugas yang diberikan.
Saat Tuhan mengutus Musa, dia beralasan, “Bagaimana jika orang Israel tidak percaya kalau Tuhan yang mengutus aku, dan bertanya tentang nama-Nya?” Tuhan menjelaskan panjang lebar tentang nama-Nya yang harus diperkenalkan kepada orang Israel dan apa yang harus dikerjakannya dan apa yang akan terjadi (Kel. 3:13-22). Tapi Musa beralasan lagi, “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku?”
Tuhan memperlengkapi Musa dengan tiga tanda mujizat supaya Israel mempercayai dia dan mendengarkan perkataannya (Kel. 4:1-9). Tetapi Musa beralasan lagi, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara.” Tuhan berkata bahwa Dia yang menciptakan lidah manusia akan menyertainya dan mengajarkan apa yang harus dikatakan (Kel. 4:10-11). Akhirnya Musa berkata terus-terang, “Aku tidak layak, utuslah siapa saja yang lebih layak Engkau utus” (Kel. 4:13).
2. Terpenjara dalam “kekerdilan ke-aku-an-nya” sehingga tidak bisa melihat “ke-AKU-an” Tuhan yang besar.
Selama bercakap-cakap dengan Tuhan, Musa tidak bisa ke luar dari kekerdilan ke-aku-an-nya karena dia terpenjara di sana. Apa pun yang Tuhan katakan dan nyatakan kepadanya seperti membentur tembok dan tidak bisa diterimanya dengan baik.
Demikianlah orang yang masih memiliki konflik batin di dalam dirinya, Tuhan dan kita bicara apa pun juga, itu seperti membentur tembok. Tidak bisa diterimanya, sekalipun sudah disertai bukti dan mujizat yang sangat nyata.
Penyebabnya adalah karena mereka terpenjara dalam ‘kekerdilan ke-aku-an-nya’ sehingga tidak bisa melihat ‘ke-AKU-an’ Tuhan yang besar. Itu sebabnya ketika Musa menanyakan tentang nama-Nya, Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai ‘AKU adalah AKU’ supaya Musa tertelan dalam ‘kebesaran ke-AKU-an’ Tuhan sehingga dia terbebas dari penjara ‘ke-aku-an-nya’ yang sangat kecil itu.
3. Selalu memikirkan dan menakutkan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Saat Tuhan ingin memakai Musa, ia selalu terhalang dengan berbagai hal yang menakutkannya, yang sebenarnya hanya merupakan rekayasa dari pikiran ketakutannya sendiri. Dia menakutkan, bagaimana jika orang Israel tidak percaya kepada Tuhan yang mengutus aku dan bertanya tentang nama-Nya.
Tetapi setelah Tuhan menyatakan nama-Nya, ia menakutkan, bagaimana jika orang Israel tidak percaya kepadaku? Semua ketakutan itu menghalangi dia untuk menunaikan tugas ilahi yang dari Tuhan.
Orang yang masih memiliki konflik batin dalam dirinya adalah orang yang takut gagal, takut tidak bisa, takut dengan apa kata orang.
Jika ketiga ciri-ciri orang yang masih memiliki konflik batin ini masih ada dalam hidup anda, maka itu pertanda masih ada konflik batin yang harus ditanggulangi, segeralah tanggulangi, jangan malah mengeksposnya.
Baca pula: Yang Harus Kita Lakukan Bila Tuhan Bekerja.