II Timotius 1:3a Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku.
Murni berbeda dengan bersih. Sesuatu yang bersih belum tentu murni. Bensin campur mungkin bersih, tetapi tidak murni, karena ada percampuran di dalamnya. Bersih itu tidak kotor, murni itu tidak ada percampuran. Hati nurani yang murni bukan sekedar bersih, tetapi juga tidak ada percampuran di dalamnya. Hati nuraninya hanya tertuju kepada Allah dan tidak bercampur dengan yang lain selain Allah.
Misalnya, seseorang meminta kepada Allah berbagai hal yang baik selain Allah. Ia menginginkan yang baik dari Allah tetapi tidak mencari Allah dengan mutlak, dalam hati nuraninya juga tidak ada perasaan bersalah ketika meminta hal-hal yang baik itu. Hati nurani semacam ini mungkin bersih, tetapi tidak murni. Kita bisa saja mendambakan Allah, tetapi pada saat yang sama mendambakan pemberitaan Injil yang sukses atau memimpin gereja agar berkembang. Ini tidak bisa dikatakan buruk, tetapi tidak murni.
Ada orang yang pelayanannya sangat efektif. Sejumlah orang diselamatkan, dan banyak yang diberkati lewat pelayanannya. Tetapi suatu hari, ketika terang Allah menyoroti dirinya, ia bisa berkata kepada Tuhan, “Oh Tuhan Yesus, semua pelayanan ini telah menggantikan diri-Mu, telah merampas kedudukan-Mu di dalam hatiku. Terhadap Engkau batinku tidak cukup murni, tidak cukup bersih, tidak cukup mutlak. Aku masih menginginkan hal-hal yang lain selain Engkau.”
Kita perlu memahami situasi pada saat Paulus menulis surat kedua kepada Timotius ini. Jika ia bukan hanya menginginkan Allah, jika hati nuraninya bukan hanya memandang Allah sebagai sasaran, maka ia tidak mungkin masih berdiri teguh, karena pada saat itu ia telah kehilangan segala sesuatu. Gereja-gereja di Asia telah meninggalkannya. Bahkan Demas, kawan sekerjanya, telah mengasihi dunia dan meninggalkannya juga. Semua yang ada di sekelilingnya telah meninggalkannya dan mengabaikannya di dalam penjara. Namun, dalam keadaan seperti itu, ia tidak kehilangan semangat, ia tahu apa yang ia inginkan. Ia tidak menginginkan gereja atau pekerjaan, melainkan Allah sendiri. Karena itu, walaupun keadaan sekeliling semuanya berubah, ia tetap berdiri teguh. Hati nuraninya tidak hanya bersih, tetapi juga murni.
Jika hati nurani kita murni sedemikian rupa, kita akan menghakimi semua hal yang di luar Allah. Kita tidak hanya akan menghakimi semua yang jahat, tetapi juga semua yang baik, karena semua itu bukan diri Allah sendiri. Apa yang kita inginkan bukanlah pekerjaan, berkat, atau gereja. Yang kita inginkan adalah diri Allah sendiri.
Ketika hati nurani kita bersih dan murni, doa-doa kita akan menjadi sangat dalam dan sangat tepat. Hari ini, banyak doa kita kurang dalam dan kurang tepat. Kita seperti anak-anak yang meminta segala sesuatu menurut maunya sendiri. Tetapi karena kita masih kecil dan belum banyak mengerti, maka Bapa memberikan sesuai dengan apa yang kita minta. Akan tetapi, setelah kita bertumbuh, kita tidak bisa lagi berdoa semau kita. Ada perkara yang kita tidak dapat membuka mulut untuk meminta. Dan ketika Tuhan tidak menjawab doa, kita tidak akan mengeluh, sebaliknya, kita akan mengucap syukur, karena kita tahu bahwa Allah tidak akan memberi kita hal-hal di luar diri-Nya sendiri. Karena itu, untuk menjadi pendoa yang dalam dan tepat, ini sangat besar hubungannya dengan hati nurani yang murni.
Doa: O Tuhan Yesus, basuhlah hati nurani kami dengan kuasa darah Yesus, sehingga bukan hanya bersih tetapi juga murni. Kami mau menghakimi segala sesuatu yang bukan Allah yang masih ada dalam hati kami ya Tuhan. Singkirkanlah semua itu ya Tuhan. Amin!