KUASA NAIK KE SORGA

Efesus 2:6 dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga.

Begitu ada kedudukan naik ke sorga, tentu menghasilkan kuasa naik ke sorga. Siapa pun dalam kedudukan apa pun, tentu memiliki kuasanya. Contoh: Polisi memiliki kedudukan polisi, dan juga memiliki kuasa polisi. Guru memiliki kedudukan guru, dan juga kuasa guru. Setiap kedudukan memiliki kuasanya. Bahkan tukang becak di pinggir jalan memiliki kedudukan tukang becak, dan memiliki kuasa tukang becak.

Di Taipei, jika Anda memanggil becak yang sedang lewat, segera ada becak lain yang mangkal di sekitar sana datang memburu. Begitu ia datang, becak yang sedang lewat yang Anda panggil itu tidak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa membiarkan calon penumpangnya diambil oleh becak yang mangkal tadi. Mengapa bisa begitu? Karena di sana ada persoalan kedudukan. Tempat mangkal becak ada satu kedudukan, dan kedudukan itu menghasilkan kuasa.

Naik ke sorga adalah satu kedudukan, dan pada kedudukan ini ada satu kuasa. Kehidupan rohani orang Kristen bukan melulu persoalan hayat, melainkan juga persoalan kedudukan. Bukan melulu persoalan kekuatan, melainkan juga persoalan kuasa. Hayat mendatangkan kekuatan, sedang kedudukan mendatangkan kuasa. Kebangkitan adalah persoalan kekuatan, sedang naik ke sorga adalah persoalan kuasa. Kita harus memiliki kedudukan tertentu baru memiliki kuasa tertentu. Jika berada di alam sorgawi, dengan sendirinya kita memiliki kuasa sorgawi. Semua doa yang sejati pasti berada dalam kedudukan naik ke sorga, dan memakai kuasa sorgawi.

Doa: O Tuhan Yesus, biarlah kami berdoa dari kedudukan naik ke sorga, sehingga kami bisa menggunakan kuasa sorgawi dalam doa kami. Amin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*