Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
Matius 6:9-10 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Jika kita tahu bagaimana meminta bagi diri dan kehendak sendiri, memang kita bisa berdoa, tetapi kita bukanlah seorang pendoa. Seorang pendoa harus menjadi orang yang dalam seluruh alam semesta hanya memperhatikan Allah dan kehendak-Nya. Pada umumnya kita mengira bahwa doa adalah mohon Allah melakukan sesuatu bagi diri kita. Namun, di Taman Getsemani, kita melihat orang berdoa seperti ini: Bukan menurut kehendak-Ku, melainkan menurut kehendak-Mu. Aku tidak meminta Engkau melakukan sesuatu untukku, melainkan Aku meminta agar kehendak-Mu yang terlaksana.
Jika kita hanya tahu berdoa untuk kehidupan, pekerjaan, dan keluarga kita sendiri, maka doa kita sangat bermasalah. Itu membuktikan bahwa kita kurang tulus murni di hadapan Allah, di dalam kita masih campur aduk; kita mau Allah, tapi juga mau hal-hal yang lain selain Allah. Hati dan roh kita belum dimurnikan sedemikian rupa sehingga kita hanya ingin Allah dan kehendak-Nya. Jika demikian, kita bukanlah pendoa. Kita bisa berdoa, tetapi ditinjau dari manusia kita, kita bukan pendoa. Seorang pendoa adalah orang yang doa-doanya tidak mencari kelancaran, kemajuan, kenikmatan, atau penggenapan bagi dirinya sendiri. Ia puas selama Allah lancar dan memiliki jalan untuk maju menggenapkan kehendak-Nya.
Ketika berdoa untuk sarapan pagi, kita seharusnya berdoa, “Ya Tuhan, terima kasih untuk makanan ini. Berkatilah makanan ini menjadi kekuatan dalam tubuh kami agar kami bisa hidup bagi Engkau dan melaksanakan kehendak-Mu. Kami hanya menginginkan Engkau dan kehendak-Mu, bukan kenikmatan dan kelancaran kami.” Juga dalam melakukan bisnis, dalam mengajar, atau pekerjaan lainnya, prinsipnya tetap sama. Kita dapat berdoa, “Ya Tuhan, berkatilah pekerjaan ini, bukan untuk kami, melainkan untuk Engkau. Kami berdoa agar pekerjaan ini lancar dan menghasilkan keuntungan, tetapi bukan untuk diri kami sendiri, melainkan untuk Kerajaan-Mu.”
Dalam pekerjaan Allah pun prinsipnya sama. Kadang-kadang, setelah menderita suatu masalah dalam pekerjaan Allah, kita menangis dengan sedih sambil bercucuran air mata di hadapan Allah. Tetapi kesedihan itu belum tentu berharga dan cucuran air mata itu belum tentu diingat oleh Allah. Allah akan bertanya kepada kita, “Untuk siapakah engkau merasa sedih? Demi apakah engkau mencucurkan air mata?” Allah akan memperlihatkan bahwa motivasi kita belum murni. Dalam pekerjaan Allah, seringkali kita masih memiliki banyak pamrih, harapan, dan tujuan kita sendiri. Doa yang kita ucapkan bisa menjadi ujian mengenai hati kita sebenarnya berada di mana dan untuk siapa. Cepat atau lambat, setiap orang akan diuji dalam doanya. Orang yang belum pernah diuji dan dimurnikan dalam doa bukanlah pendoa. Ia mungkin sering berdoa, tetapi ia masih belum terhitung sebagai orang yang bekerja sama dengan Allah, yang berdoa hanya untuk merampungkan kehendak-Nya.
Doa: O Tuhan Yesus, di alam semesta ini, kami tidak menginginkan yang lain selain Engkau dan kehendak-Mu. Biarlah seluruh doa kami bukan untuk kenikmatan dan kelancaran kami, melainkan untuk pelaksanaan dan penggenapan kehendak-Mu. Amin!