I Timotius 1:19 Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni (good – baik) itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.
Ibrani 3:10-11 Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.
Dalam Perjanjian Baru, hati nurani yang baik berarti hati nurani yang tidak bengkok, tidak sesat, hati nurani yang sangat normal dan benar. Misalnya, saya ketahuan mencuri uang majikan saya. Namun, saya membenarkan perbuatan saya dengan berkata bahwa majikan saya berhutang kepada saya. Saya beralasan, karena majikan saya tidak membayar apa yang seharusnya saya peroleh, maka tidaklah salah kalau saya mencuri uangnya untuk membereskan kekurangan itu. Alasan seperti itu adalah usaha memutar-balikkan fakta. Alasan itu membuktikan bahwa hati nurani saya tidak baik.
Hati nurani haruslah lurus dan tidak berat sebelah. Jika ya, katakan ya. Jika tidak, katakan tidak. Jika berbuat salah, akuilah, sekalipun mungkin akan menderita kerugian. Jika benar, akuilah juga, sekalipun harus dibuang ke dalam dapur api. Kita harus memelihara sikap seperti ini baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.
Ada orang, jika orang lain bersalah, ia akan dengan mudah mencela dan menghukum. Namun, jika dirinya sendiri atau keluarganya melakukan kesalahan yang sama, ia akan memperkecil kesalahan itu, mengabaikannya, bahkan mencari alasan untuk menutupinya. Prilaku seperti itu menunjukkan hati nuraninya tidak tepat, tidak normal, dan bengkok. Jika memiliki hati nurani yang baik dan lurus, maka kalaupun isteri saya atau adik saya atau bahkan saya sendiri yang bersalah, maka saya akan mengakui kesalahan itu. Garis yang ditarik harus benar-benar lurus dan tepat. Tidak peduli siapa, apa, di mana, atau kapan, jika ada perbuatan yang melanggar garis ini, harus dinyatakan salah. Inilah hati nurani yang lurus, hati nurani yang baik. Perdebatan, argumen, dan pertengkaran, tidaklah berguna. Kita hanya perlu memeriksa hati nurani kita.
Sayangnya, banyak orang Kristen tidak menjagai hati nuraninya baik. Sebaliknya, malah banyak yang mengkhianati hati nuraninya dan membelokkannya, sehingga menghasilkan hati nurani yang tidak baik. Orang yang hati nuraninya sesat dan bengkok tidak dapat mengenal jalan Tuhan dan tidak dapat masuk ke tempat perhentian Tuhan, dan iman mereka pun pada akhirnya akan kandas. Mereka juga akan mengalami kesulitan untuk berdoa. Untuk menjadi pendoa yang tepat, kita harus memelihara hati nurani yang lurus, normal, tepat, dan baik.
Doa: O Tuhan Yesus, kami ingin memelihara hati nurani kami agar lurus, normal, tepat, dan baik, sehingga kami dapat mengenal jalan-jalanMu dan menjadi pendoa yang tepat. Amin!