Tanah Hati Berbatu-batu

“Benih yang ditaburkan di tanah hati berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad” (Matius 13:20-21).

Tanah Hati Berbatu-batu
Tanah Hati Berbatu-batu

Kondisi hati kita menentukan seberapa dalam Firman dapat berakar, seberapa jauh Firman dapat bertumbuh, dan seberapa banyak Firman dapat berbuah. Itu sebabnya sangat penting untuk kita mengetahui kondisi hati kita yang sebenarnya.

Dalam Matius 13, Yesus memberitahukan tentang 4 kondisi hati yang akan muncul ketika mendengar Firman Kerajaan disampaikan.

Dalam tulisan saya yang sebelumnya, kita sudah belajar tentang perumpamaan seorang penabur yaitu tanah hati pinggir jalan, dan sekarang mari kita belajar tentang kondisi hati berbatu-batu.

Kondisi tanah hati berbatu-batu menggambarkan orang yang sebetulnya sangat ingin hidup dalam kebenaran tetapi selalu terhalang oleh konsep pikir lama yang sudah terlanjur terbangun dan menjadi sistem kepercayaan dalam dirinya. Paulus menyebutnya dengan istilah: kebenaran diri sendiri (self-righteousness).

“Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah” (Roma 10:1-3).

Batu-batu (kebenaran diri sendiri/self-righteousness) inilah yang menghambat Firman untuk bertumbuh dan berbuah dalam hidup mereka. Mereka giat untuk Allah, tapi tidak pernah menghasilkan buah.

Kebenaran diri sendiri terbangun dari kumpulan informasi, pengalaman, dan ajaran yang pernah mereka terima di masa lalu yang sudah terlanjur mereka percayai sebagai sebuah kebenaran.

Ciri-ciri dari kondisi hati berbatu-batu:

1. Mudah menerima Firman tetapi juga mudah melepaskannya.
Saat pertama kali mendengar Firman Kerajaan mereka segera menerimanya dengan gembira, tetapi beberapa hari kemudian akan muncul pertentangan dalam pikiran mereka, dan ketika harus menghadapi pertentangan karena Firman itu, mereka memilih untuk melepaskan dan melupakannya.

2 .Tidak dapat melaksanakan Firman secara penuh.
Saat pertama kali mendengar Firman Kerajaan mereka menerimanya dengan gembira, tetapi ketika harus melaksanakan Firman tersebut, mereka terbentur dengan kebenaran mereka sendiri, sehingga mereka ‘men-diskon’ pelaksanaan Firman.

Raja Saul adalah contoh orang yang memiliki tanah hati berbatu-batu. Saat Samuel memberikan arahan:

“Engkau harus pergi ke Gilgal mendahului aku, dan camkanlah, aku akan datang kepadamu untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Engkau harus menunggu tujuh hari lamanya, sampai aku datang kepadamu dan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan” (I Sam. 10:8).

Saul sebetulnya mau melakukan sesuai arahan, tetapi ketika situasi tidak memungkinkan dia mulai memakai kebenarannya sendiri, dan ketika Samuel bertanya, inilah jawabannya:

“Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran” (I Sam. 13:11-12).

Pada waktu Samuel memberikan arahan:
Beginilah firman TUHAN semesta alam: “Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai” (I Sam. 15:2-3).

Saul kembali men-diskonnya. Semua yang tidak berharga memang dibunuh, tetapi semua yang berharga dipisahkannya. Ketika Samuel bertanya, ia beralasan:

“Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas” (I Sam. 15:15).

Kondisi hati berbatu-batu akan selalu menemukan alasan untuk ‘men-diskon’ dan menurunkan standar Firman, karena mereka memiliki “kebenaran sendiri” yang menyebabkan mereka menjadi sulit untuk melaksanakan Firman secara utuh.

3. Kelihatannya bertumbuh/berbuah padahal sebenarnya tidak.
Biasanya orang ini memiliki banyak aktivitas rohani tetapi juga banyak mengalami pergumulan pribadi. Mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Mereka berpikir aktivitas rohani sama dengan buah Ilahi.

Pohon yang banyak ranting dan daunnya belum tentu banyak buahnya. Bagaimana Anda tahu bahwa Anda sudah bertumbuh? Bukan dari banyaknya aktivitas, tetapi dari respon yang muncul saat menghadapi hambatan. Kalau Anda masih terus menghadapi masalah yang sama dan terus memunculkan respon yang sama, berarti Anda tidak bertumbuh.

Jika Anda menghadapi masalah yang sama tetapi responnya mulai berbeda berarti Anda sudah bertumbuh. Waktu masih bayi, jika lapar Anda menangis. Setelah bertumbuh dewasa, jika lapar Anda tidak menangis tetapi mencari makanan.

Jika Anda masih menangis jika lapar, menunjukkan Anda masih bayi dan belum bertumbuh. Perubahan respon menunjukkan terjadinya pertumbuhan.

Bagaimana caranya mengubah tanah hati berbatu-batu menjadi tanah hati yang baik?

1. Terhubung dengan seorang penabur.
Ketika seorang penabur menaburkan benih Kerajaan, batu-batu yang selama ini tersembunyi akan mulai terlihat. Sebelumnya Anda tidak pernah tahu, kalau sebetulnya Anda tidak mengalami pertumbuhan karena terhambat oleh batu-batu tersebut.

Seorang penabur akan dapat memberitahu batu-batu kebenaran diri sendiri yang masih ada dalam diri Anda, yang selama ini menghimpit Firman sehingga tidak dapat bertumbuh dalam diri Anda.

2. Menyingkirkan batu-batu yang ada.
Setelah Anda diterangi, maka batu-batu itu harus disingkirkan, dibuang jauh-jauh dari hidup Anda. Mintalah bantuan dari sang penabur untuk menyingkirkan batu-batu tersebut dengan cara memotongnya dari hidup Anda.

3. Menanamkan batu-batu yang baru.
Setelah batu-batu yang lama tersingkirkan, Anda harus menanamkan batu-batu yang baru. Benih Firman Kerajaan yang diberikan oleh sang penabur akan menjadi batu-batu baru yang harus ditanamkan dalam diri Anda sehingga hidup Anda dibangun di atas batu kebenaran Allah, bukan kebenaran diri sendiri.

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu” (Mat. 7:24-25).

Baca juga: Tanah Hati Pinggir Jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*