Pola Ilahi dari Gereja Mula-Mula

Pola Ilahi dari Gereja Mula-Mula
Pola Ilahi dari Gereja Mula-Mula

Gereja harus dibangun sesuai dengan pola Sorga (Kisah Para Rasul 2:41-47). Jika tidak begitu, gereja akan melenceng entah ke mana, dan tidak memenuhi maksud dan tujuan Tuhan menciptakannya. Itu sebabnya gereja harus punya pola. Inilah pola Ilahi dari gereja mula-mula:

1. Gereja dimulai dan dibangun di atas kehidupan yang telah berubah (ayat 14-41).
Gereja mula-mula diawali dengan bangkitnya Simon (ilalang) yang telah diubah Roh Kudus menjadi Petrus (batu karang). Kehidupan yang telah berubah dapat dipakai Tuhan untuk mengubahkan kehidupan yang lainnya, itulah sebabnya ia berkhotbah:

“Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”

Tiga ribu orang bertobat dan meninggalkan kejahatan. Dari situlah gereja dimulai dan dibangun. Ini adalah tiga ribu orang yang sungguh bertobat dan siap dimuridkan, bukan sekadar kumpulan orang.

Gereja seharusnya dimulai dan dibangun oleh seorang pemimpin yang telah mengalami perubahan hidup dan dengan kumpulan jemaat yang sungguh bertobat dan siap dimuridkan.

2. Jemaat bertekun dalam satu sumber pengajaran dari pemimpinnya (ayat 42).
Setelah bertobat mereka mulai dimuridkan. Alkitab mencatat mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, pemimpin mereka. Dari manakah pengajaran para rasul? Dari satu sumber, yaitu: Yesus Kristus.

Semua rasul menerima pengajaran dari satu sumber, Yesus. Jemaat menerima pengajaran dari satu sumber, pemimpin mereka.

Pemimpin seharusnya menjadi sumber yang memberikan pengajaran kepada jemaatnya, sehingga jemaat bisa bertekun dalam satu sumber pengajaran tersebut.

Jika pemimpin bisa terus menerima pewahyuan Firman dari Sorga, Jemaat tidak seharusnya menerima pengajaran dari berbagai sumber, dengan demikian mereka akan memiliki DNA rohani yang sama dan menuju tujuan yang sama. Begitulah caranya jemaat bisa menjadi satu hati dan satu pikiran.

3. Ada roh kesatuan di antara jemaat (ayat 42, 46).
Karena mereka menekuni pengajaran yang sama, mereka pun memiliki pikiran yang sama, sehingga dengan mudah terjadi kesatuan. Jika jemaat menekuni pengajaran yang sama, tidak akan ada perpecahan dalam gereja lokal.

4. Ada roh takut akan Tuhan dan pemimpin (ayat 43).
Pemimpin harus dapat memanifestasikan hadirat dan pekerjaan Tuhan, sehingga perkara-perkara Ilahi terjadi di tengah-tengah jemaat.

Dengan demikian, jemaat dicengkeram dengan roh takut akan Tuhan dan pemimpin, mereka bukan hanya menghormati Tuhan tetapi juga pemimpin. Gereja yang dibangun sesuai pola Sorga memiliki rasa hormat di dalamnya.

5. Ada distribusi kekayaan materi oleh pemimpin (ayat 44-45; 4:32-35).
Orang-orang kaya membawa harta mereka di kaki para rasul dan para rasul mendistribusikannya kepada jemaat yang membutuhkan, sehingga terjadi keseimbangan dalam gereja. Begitulah seharusnya gereja!

6. Jemaat tekun dalam beribadah (ayat 46).
Mereka menyadari kuasa ibadah, itu sebabnya mereka tidak pernah menganggap remeh pertemuan ibadah. Dalam ibadah mereka mengalami perjumpaan Ilahi dan perubahan hidup.
Mereka menerima pewahyuan Firman yang segar yang memperlengkapi mereka untuk dapat hidup sebagai representasi Kerajaan Sorga di bumi ini.

7. Jemaat berdampak di komunitas (ayat 47).
Karena ibadah memperlengkapi jemaat untuk hidup sebagai representasi Kerajaan Sorga di bumi, mereka menjadi orang-orang yang berdampak di tengah komunitas mereka, sehingga mereka disukai semua orang.

8. Bertambah dalam jumlah (ayat 47).
Dan yang terakhir, setelah nomor satu sampai enam terjadi, maka dengan sendirinya gereja mengalami pertambahan jumlah jemaat.

Jadi pertambahan jumlah jemaat bukanlah sesuatu yang mereka usahakan. Ini adalah dampak yang dengan sendirinya akan terjadi jika gereja dibangun sesuai pola Sorga.

Pola Ilahi dari gereja mula-Mula inilah yang seharusnya menjadi cermin untuk kita membangun gereja sehingga gereja terbangun sesuai pola sorga.

Baca juga: Amanat Agung Sang Raja.

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*